
GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)
Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/ atau berbicara. GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi strategi yang digunakan adalah sebagai berikut.
Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.
Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antarguru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.
Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | Membaca 15 menit sebelum pelajaran (one day one ride) | kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah setiap hari senin – jumat sebelum pelajaran dimulai untuk meningkatkan kemampuan literasi | setiap senin-jumat |
| 2 | KECAP (kamis Membaca Senyap) | kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah setiap hari kamis pagi di halaman sekolah. | setiap kamis pagi |
| 3 | Gerakan menulis dan membuat karya mading | kegiatan ini dilaksanakan oleh siswa. Siswa membuat mading setiap satu minggu sekali |
setiap jumat |
| 4 | Unjuk Kemampuan | dilaksanakan oleh siswa dari kelas I-VI dengan menunjukkan keberanian tampil literasi di depan semua warga sekolah pada hari kamis pagi setelah kegiatan membaca senyap | setiap kamis pagi |
| 5 | Penyematan PIN teladan/Prestasi | Penyematan PIN diberikan kepada peserta didik yang berprestasi/telah melakukan unjuk kemampuan.Setiap siswa yang mendapat PIN mampu menjadi teladan bagi lingkungannya | setiap kamis pagi |
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | permainan tradisional congklak dan engklek | Kegiatan ini dilakukan pada saat jam istirahat oleh siswa. | saat jam istirahat |
| 2 | Jam kedatangan siswa | dilakukan setiap mereka datang memasuki kelas masing-masing | setiap pagi hari |
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | Sains projek | kegiatan penelitian terhadap lingkungan sekitar. | setiap akhir tema |
| 2 | Produk makanan dan minuman dari hasil tanaman di sekitar sekolah | Kegiatan ini adalah mengolah hasil tanaman di sekitar sekolah yang sebelumnya siswa diajak untuk menanam beberapa tanaman. Hasil olahannya berupa minuman cincau, telang, dan minuman sereh | di akhir bulan |
| 3 | Praktek sains sederhana | kegiatan ini dilakukan oleh siswa dengan membuat teknologi sederhana di kelas dan sekolah. | setiap tema |
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | Kantin kejujuran | satu program pengembangan literasi sekolah dengan melatih kejujuran siswa dalam berhitung di kantin sekolah | saat jam istirahat |
| 2 | Market day | praktek wirausaha pada siswa mulai dari membuat produk, membuat pamphlet, pemasaran/ penjualan, serta menghitung keuntungan yang diperoleh | di tema |
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | pembuatan media pembelajaran PPT dan Video | pembuatan media pembelajaran PPT dan Video oleh peserta didik untuk melatih kemampuan TIK | setiap hari selasa |
| No | Jenis Kegiatan | Uraian Kegiatan | Waktu |
| 1 | ASSEM dan ASEP | pembiasaan pada siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan mengambil sampah sebelum masuk kelas dan sebelum pulang sekolah | sebelum masuk kelas dan sebelum pulang |
| 2 | Pembiasaan 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun dan Sumeh) | Kegiatan ini merupakan pembiasaan setiap pagi ketika memasuki gerbang sekolah dan pembiasaan selama berada dalam lingkungan sekolah | setiap hari |
| 3 | SIRAMA/ Siram Aku | kegiatan menyiram tanaman yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah | setiap hari |